TIBUKU

aku membaca maka aku ada

img
Home / Biografi / √ Biografi Gus Dur “Bapak Pluralisme” – Profil Biodata Singkat Terlengkap

√ Biografi Gus Dur “Bapak Pluralisme” – Profil Biodata Singkat Terlengkap

44 Views

Biografi Gus Dur – Gus dur yang memiliki nama lahir Abdurrahman Wahid, mungkin lebih dikenal sebagai presiden ke-4 Indonesia daripada seorang agamawan tersohor. Masyarakat mungkin mengenal Gus Dur karena pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia, namun biografi Gus Dur singkat di artikel ini akan menjelaskan latar belakang, cerita hidup, sehingga terkuak siapa sebenarnya Abdurrahman Wahid.

Pada tahun 1999, Gus Dur menggantikan posisi BJ Habibie yang sebelumnya menjabat sebagai presiden Republik Indonesia ke tiga. Meski masa kepemimpinannya hanya berusia kurang dari dua tahun, namun Gus Dur berhasil mengeluarkan kebijakan reformasi yang cukup kontroversial, yakni pembubaran departemen sosial yang dianggap korupsi dan merugikan negara dan masyarakat Indonesia.

Meski Gus Dur dikenal dengan kebijakan dan keterlibatannya dalam ranah politik yang berbau agama, namun beliau juga memiliki berbagai wawasan luas terkait dunia di luar agama. Wawasan luas tersebut Gus Dur peroleh dari usaha dan kegemarannya membaca buku-buku sejak kecil.  Kecerdasan dan wawasan luas yang beliau miliki berhasil membawa ia ke puncak kekuasaan tertinggi di Indonesia.

Profil dan Biodata Lengkap Gus Dur

Profil dan Biodata Lengkap Gus Dur
Profil dan Biodata Lengkap Gus Dur
Nama LahirAbdurrahman Wahid
Nama PopulerGus Dur
Tempat, Tanggal LahirJombang, 04 Agustus 1940
Wafat30 Desember 2009 (di usia 69 tahun)
AgamaIslam
IstriSinta Nuriyah
Orang Tua- Abdul Wahid Hasyim (Ayah)
- Siti Sholehah (Ibu)
AnakZannuba Ariffah Chafsoh Wahid (Yenny Wahid), Inayah Wulandari, Alissa Qotrunnada, Anita Hayatunnufus
Tabel Biodata Gus Dur

Biografi Singkat Gus Dur

Biografi Singkat Gus Dur
Biografi Singkat Gus Dur

Gus Dur yang lahir dengan nama Abdurrahman Wahid berasal dari keluarga religius, di mana kakeknya adalah K.H Hasyim Asyi’ari adalah seorang tokoh agama yang terkenal, sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sikap religius yang ada dalam jiwa Gus Dur tidak lepas dari darah dan ilmu sang kakek yang mengalir langsung ke tubuhnya. Hal ini membuatnya memiliki posisi yang diperhitungkan di NU.

Awalnya Gus Dur menolak tawaran menjadi salah satu anggota Dewan Penasihat Agama di NU, karena ia sendiri memiliki keinginan kuat pada bidang lain; yakni ingin menjadi intelektual publik. Akan tetapi setelah tawaran ketiga dari kakeknya, ia menyanggupi untuk menjadi bagian dari Dewan Penasihat dan memilih pindah dari Jombang yang merupakan tanah kelahirannya ke Jakarta.

Di NU inilah ia mulai mengembangkan karier dan kehebatan ia memimpin umat mulai tampak dengan terpilihnya sebagai ketua NU bahkan sampai 3 kali masa jabatan. Ia juga melakukan berbagai reformasi NU yang mulanya dipandang masyarakat sebagai sebuah organisasi yang sedang dalam masa stagnasi. Berkat ia, NU bangkit dan menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia.

Masa Kecil dan Muda Gus Dur

Masa Kecil dan Muda Gus Dur
Masa Kecil dan Muda Gus Dur

Biografi Gus Dur di masa kecil tidak lepas dari peran sang kakek. Ia tinggal serumah, dibesarkan, serta belajar pertama kali pada sang kakek. Di usianya yang menginjak 5 tahun, ia sudah fasih mengaji dan membaca Al-Qur’an. Pemahaman agama terus diberikan sang kakek meski hanya sebentar saja, karena Wahid kecil memilih pindah ke Jakarta bersama sang ayah.

Di Jakarta, ia dimasukkan ke sekolah formal dan juga mendapat pelajaran Bahasa Belanda dari les privat yang diikutinya. Guru privatnya ialah seorang yang berbangsa Jerman namun telah memeluk agama Islam. Rupanya guru privat bahasa Belanda ini telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap Wahid kecil. Berawal dari musik klasik yang kemudian mengantarkannya pada dunia luar.

Musik klasik yang selalu gurunya mainkan ketika pelajaran berlangsung, yang dimaksudkan sebagai salah satu metode pembelajaran untuk menambah kosa kata bahasa Belanda, ternyata menjadi jembatan Gus Dur dalam mengenal dunia luar. Semenjak itu juga, Gus Dur menyukai musik klasik meski lantunan dan melodinya sangat berbeda dengan nyanyian islami yang sering dilantunkan oleh sang kakek.

Gus Dur tampaknya menjadi sangat terbuka terhadap ilmu apa saja yang diberikan oleh gurunya. Tidak peduli ilmu aliran apa yang diberikan, ia akan mempelajari selagi itu baik baginya. Terbukti ketika ia lulus Sekolah Dasar dan dipindahkan ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Yogyakarta oleh ayahnya, ia menerima pelajaran Bahasa Inggris.

Masa sekolah lanjutan pertama tersebut ia habiskan untuk belajar dan terus memahami setiap buku baru yang ia temui. Selain itu, dorongan oleh sang guru agar ia dapat memahami bahasa Inggris dengan cepat membuatnya mampu menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Gus Dur terus menggali informasi; mulai dari membaca buku penulis internasional hingga aktif mendengar berita internasional.

Seorang guru SMEP yang merupakan anggota Partai Komunis mengetahui kepiawaian Gus Dur dalam membaca buku berbahasa Inggris. Ia memberikan Gus Dur sebuah buku berjudul ‘What is To Be Done’ karya Lenin. Masa remaja, Gus Dur sudah mengenal dan memahami buku tokoh Marxisme, Karl Marx, yang berjudul Das Kapital. Ia juga membaca buku para Filsuf dan memahami filsafat dengan baik.

Wawasannya yang tidak terbatas hanya pada ilmu agama ini membuat dirinya sangat mudah beradaptasi dengan dunia luar. Terbukti ketika ia melanjutkan pendidikan ke Mesir bahkan ia pernah mencoba peruntungan pada salah satu universitas di Eropa dengan mengambil kajian ilmu klasik. Akan tetapi keinginan itu tidak terwujud karena persyaratan ketat yakni menguasai bahasa Hebraw atau Yunani.

Pendidikan Gus Dur

Pendidikan Gus Dur
Pendidikan Gus Dur
  • 1957-1959

Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah

  • 1959-1963

Pesantren Tambak Beras, Jombang Jawa Timur

  • 1964-1966

Fakultas Syari’ah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

  • 1966-1970

Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab, Universitas Baghdad, Irak

Karier Gus Dur

  1. 1984-2000

Gus Dur menjabat sebagai Ketua Dewan Tanfiz PBNU. Karena pemahamannya akan syari’ah agama. Peran sebagai Ketua Dewan Tanfiz PBNU ini ia jalankan dengan lancar dan mendapat banyak dukungan. Bahkan sebelumnya, dari pihak keluarganya sendiri, ia telah banyak mendapat tawaran menjadi Dewan Penasihat Agama di NU.

  1. 1987-1992

Selanjutnya Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. MUI yang merupakan lembaga keagamaan tertinggi di Indonesia dipimpin oleh seorang kiyai besar dan berpengalaman selama 5 tahun. Ia yang sudah belajar syari’ah sampai ke Timur Tengah dianggap memahami tafsiran-tafsiran yang dijadikan sebagai patokan pembuatan fatwa oleh para ulama dan umara’ di Indonesia.

  1. 1989-1993

Pada tahun tersebut, Gus Dur dipercaya sebagai perwakilan umat dengan terpilihnya sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Cara serta langkah ia yang terkesan santai namun tegas dalam menghadapi masalah terutama untuk permasalahan umat membuatnya mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi.

  1. 1991-2001

Meski berlatar belakang pendidikan syari’ah islam, namun serta merta membuatnya tidak mampu menduduki jabatan politik. Ia menjadi presiden Republik Indonesia ke 4 mengusung Partai Kebangkitan Bangsa sebagai partai politik di belakangnya. Ia banyak melakukan reformasi terhadap kebijakan pendahulunya yang dianggap kurang pas dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat itu.

Selawat Tanpo Waton Gus Dur

Video di bawah ini adalah lirik dari syair tanpo waton yang Gus Dur ciptakan. Lirik tanpo waton adalah tentang keberagamaan yang paripurna, lebih fokus pada pendalaman diri sendiri daripada menghakimi orang lain, dll.

Sila disimak.

Apa Kesan tentang Gus Dur yang Menempel di Kehidupan Kalian?

Biografi Abdurrahwan Wahid
Biografi Abdurrahwan Wahid

Terakhir, sebagai penutup artikel biografi singkat Gus Dur ini, kami ingin bertanya; apa kesan kalian terhadap Gus Dur? Tuliskan di kolom komentar, ya! Presiden keempat Indonesia ini sangat kutu buku, banyak sekali ilmu yang beliau punya; itulah makanya dia terkesan kalem ketika ada gejolak yang terjadi. Tapi apa kalian punya pendapat lain?

Demikian. Semoga kita semua bisa menyerap hal-hal positif dari diri Gus Dur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

It is main inner container footer text