biografi sultan ageng tirtayasa singkat

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa Singkat – Sejarah & Perjuangannya

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa Singkat – Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal karena jasa-jasanya dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pahlawan nasional yang mendapatkan gelar Sultan Banten dengan nama Sultan Abu al-Fath Abdulfattah di usia yang masih sangat muda yaitu 20 tahun.

Sultan Ageng Tirtayasa berasal dari Banten. Dikenal sebagai Sultan yang menjalin hubungan diplomatik yang cukup baik dengan berbagai negara Eropa mulai dari Turki, Perancis, Denmark, dan Inggris. Ia ahli diplomasi dalam berbagai bidang mulai dari perdagangan hingga pelayaran. Berikut akan disajikan biografi Sultan Ageng Tirtayasa yang perlu Anda ketahui dan teladani.

Biodata Sultan Ageng Tirtayasa Lengkap

Biodata Sultan Ageng Tirtayasa Lengkap

Biodata Sultan Ageng Tirtayasa Lengkap

Nama LengkapSultan Ageng Tirtayasa
LahirBanten, tahun 1631
WafatJakarta, 1692 (pada usia 61 tahun)
MakamKompleks Pemakaman Raja-raja Banten, Provinsi Banten
Nama Orangtua- Sultan Abu AL-Ma’ali Ahmad (Ayah)
- Ratu Martakusuma (Ibu)
AgamaIslam
Warga NegaraIndonesia
Tabel biodata Sultan Ageng Tirtayasa

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa Singkat

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa Singkat

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa Singkat

Bernama lengkap Sultan Ageng Tirtayasa atau dikenal sebagai Sultan Abu Al-Fath Abdulfattah atau Pangeran Surya, beliau adalah Sultan Banten, yang lahir di Banten pada tahun 1631. Ia meninggal di Batavia (saat ini menjadi Jakarta) pada tahun 1692 di usia kurang lebih sekitar 61 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banten di Provinsi Banten

Sultan Ageng Tirtayasa  merupakan tongkat estafet penguasa Banten dari sang ayah yaitu Sultan Abu Al-Ma’ali Ahmad yang memerintah pada tahun 1640 hingga 1650. Ia cucu dari Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir yang memerintah Banten pada tahun 1605-1640. Ibunya seorang ratu Banten yang hebat bernama Ratu Martakusuma.

Pengangkatan Sultan Ageng Tirtayasa Menjadi Sultan Banten

Sang ayah, Sultan Abu Al-Ma’ai Ahmad meninggal dunia pada 1650. Kemudian oleh sang kakek, Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir belau dinobatkan sebagai Sultan Muda dengan gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Adipati yang sebelumnya ia bergelar Pangeran Surya. Setelah sang kakek wafat, ia diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

Tahun 1651, Sultan Ageng Tirtayasa dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah resmi menjadi Sultan Banten ke 6 pada usia yang masih sangat muda yaitu 20 tahun. Sebuah amanah dan tanggung jawab yang cukup besar dijalani oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada usia muda tak menjadikannya patah semangat. Ia justru pandai dalam segala bidang pemerintahan.

Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga peduli terhadap perkembangan Islam di Indonesia khususnya di daerahnya. Ia mengundang banyak guru agama Islam dari dalam negeri Aceh hingga mengundang dari Arab dan beberapa daerah lain untuk membina jiwa, mental, dan psikologis pasukan atau prajurit Kesultanan Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa  selain dikenal akan kecerdasannya dalam mengelola perekonomian, Ia juga dikenal sebagai pahlawan yang menaruh perhatian dalam bidang keagamaan. Ia menobatkan Syekh Yusuf, ulama yang berasal dari Makassar sebagai mufti kerajaan dalam menyelesaikan perakra keagamaan dan Penasihat Sultan di bidang pemerintahan.

Kesultanan Banten Mengalami Masa Kejayaan

Dikenal sebagai Sultan Banten yang cerdas dalam berbagai bidang pemerintahan seperti hubungan diplomasi degan berbagai negara di Eropa seperti Denmark, Inggris, Turki, hingga Prancis yang membuat perdagangan di Banten mencapai puncak kejayaan dengan kunjungan  pedagang dari belahan dunia seperti Arab, India, Persia, Cina, Filipina, hingga melayu.

Sultan Ageng Tirtayasa juga merupakan Sultan Banten yang hebat dalam hal perencanaan atau strategi perang. Ia bukan hanya melindungi Kesultanan Banten. Namun, juga membantu kerajaan lain yang membutuhkan bantuan untuk melawan musuh dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

Sultan juga membantu berbagai serangan dan pemberontakan beberapa daerah. Salah satunya di Mataram, ia membantu Trunojoyo. Bahkan, membebaskan Pangeran Karatwjaya dan Pangeran Martawijaya yang waktu itu sempat ditahan di Mataram dikarenakan hubungannya dengan Cirebon.

Sultan Ageng Tirtayasa menjadi suri tauladan karena dinilai sebagai pemimpin yang amanah dengan isi misi yang jelas dalam membangun tanah air khususnya dalam wilayah Banten. Selain itu, ia juga merupakan pemimpin yang visioner, ahli merancang wilayah dan tata kelola air, egaliter serta terbuka dengan wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional.

Sultan Ageng Tirtayasa Melawan Hasutan Belanda dan Menjalani Perang Saudara

Banten mengalami masa kejayaan di waktu pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Namun, di samping itu pada masanya, Kesultanan Banten semakin dimusuhi oleh Pemerintah Belanda. Penyebab meruncingnya konflik tersebut ialah Belanda turut ikut campur dalam pemerintahan internal Kesultanan Banten.

Belanda melakukan politik adu domba atau disebut sebagai Devide et Impera dengan menghasut  Abu Nasr atau Sultan Haji untuk memerangi Pangeran Arya Purbaya selaku saudaranya sendiri. Abu Nasr mengira bahwa Sultan Ageng Tirtayasa membagi tugas pemerintahan kepadanya dengan tujuan menyingkirkan dirinya sebagai pewaris Kesultanan Banten.

Kecurigaan Sultan Haji akan tahta yang akan diberikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa kepada Pangeran Arya Purbaya didukung oleh Belanda dengan berusaha membinasakan Sultan Ageng Tirtayasa karena dianggap tidak adil dalam membagi kekuasaannya.

Perang keluarga pun tidak dapat dihindarkan yang membuat prajurit Sultan Ageng Tirtayasa turut mengepung prajurit dari Abu Nasr atau Sultan Haji di daerah Sorosowan (Banten). Tentu saja pasukan Belanda yang dikapteni oleh Katen Tack dan Saint-Martin ikut membantu Sultan Haji melawan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa.

Perang saudara terus terjadi hingga berlarut-larut dan membuat Kesultanan Banten sedikit demi sedikit mulai melemah. Hasutan pemerintah Belanda berhasil membuat perang saudara tersebut berlanjut. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa masih belum menyerah.

Sultan Ageng Tirtayasa Wafat

Hingga pada tahun 1683, Kesultanan Banten lambat laun melemah dan Belanda berhasil menangkap Sultan Ageng Tirtyasa. Kemudian ia dibawa menuju Batavia (saat ini menjadi Jakarta) dan dikurung dalam penjara selama kurun waktu beberapa tahun lamanya.

Tahun 1692 merupakan tahun yang tak terlupakan karena meninggalnya seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Sultan Ageng Tirtayasa. Kemudian ia dikebumikan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banten di provinsi Banten. Kematiannya menutup biografi Sultan Ageng Tirtayasa. Namun, tak menutup jasa-jasanya yang akan selalu dikenang oleh bangsa dan negara Indonesia.

Sultan Ageng Tirtayasa menjadi Pahlawan Nasional Indonesia

Karena jasa-jasanya dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sultan Ageng Tirtayasa dinobatkan menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berjasa dan dikenang selalu.

Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 045/TK/Tahun 1970 pada tanggal 1 Agustus 1970, Pemerintah Indonesia resmi memberikan gelar Pahalawan Nasional kepada Sultan Ageng Tirtayasa.

Atas jasa-jasanya, nama Sultan Ageng Tirtayasa pun diabadikan sebagai nama salah satu universitas terkemuka di kota kelahirannya, Banten yaitu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Selain itu, di beberapa daerah juga terdapat nama jalan yang mengabadikan namanya.

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa dalam Video

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.