TIBUKU

aku membaca maka aku ada

img
Home / Islam / Beginilah Cara Menyadarkan Orang Tua Tidak Shalat dengan Adab

Beginilah Cara Menyadarkan Orang Tua Tidak Shalat dengan Adab

159 Views

Mengajak Orang Tua Shalat – Shalat adalah tiangnya agama. Kelak, pada hari di mama segala sesuatu tidak lagi berguna, yang paling pertama ditanya oleh Allah adalah shalat. Apakah sudah benar shalat kita? Bila benar, in syaa Allah amalan-amalan lain akan lebih ringan hisabnya; pun sebaliknya.

Hari ini akses informasi terhadap ilmu agama sangatlah gampang. Betapa banyak website yang menyediakan solusi atas permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi; ada pula youtube, yang menyajikan jawaban terhadap permasalah fiqh atau hidup dari ulama lewat visual.

Tapi tidak semua orang bisa mengakses itu. Bahkan mungkin termasuk orang tua kita? Bisa jadi. Mudah-mudahan hanya ada sedikit kasus seperti ini: orang tua yang belum shalat.

Pertanyaan kita sama, bagaimana cara menyadarkan mereka? Apakah baik bila kita menyadarkan orang tua yang belum shalat, langsung ‘tembak’ dengan dalil-dalil qur’an atau hadits? Ini memang menjadi dilema setiap anak. Siapa tidak ingin orang tuanya masuk Surga? Tapi bagaimana caranya kalau shalat pun mereka belum melakukan?

Baiklah, ini hanya pendapat kami, boleh dipraktikkan atau didiskusikan lebih lanjut di kolom komentar.

Menyadarkan Orang Tua agar Mau Shalat

 

1. Berkatalah dengan Lemah Lembut

Kita harus ingat perkataan sahabat Rasulullah saw. ini,

“Jangan gunakan kefasihan bicaramu untuk mendebat ibu yang dahulu mengajarimu berbicara.” (Ali bin Abi Thalib)

Sungguh dalam makna perkataan beliau. Orang tua, dalam hal ini ibu, adalah ia yang mengandungmu selama sembilan bulan; bertaruh nyawa. Berat demi berat dia tahan hanya untuk mengeluarkanmu ke alam dunia lewat organ tubuh yang disebut rahim (sayang).

Dua tahun lamanya kita disusui, terus diberi makan, diberi pakaian, disekolahkan sampai tahu bahwa shalat itu adalah wajib dan utama. Lantas kemudian apakah kita akan meninggikan suara di hadapan orang tua kita, walau perkataan itu adalah dalil? Tentu itu adalah perbuatan yang kurang baik.

Lembutkan suara ketika berbicara pada mereka, dengan nada yang santai dan sopan. Sebab kita pun, bila diteriaki, bila dinasehati dengan ‘frontal’, akan sulit untuk menerima.

2. Cari Momen yang Pas

Perkataan apapun akan menjadi tidak jelas tujuannya bila disampaikan di waktu yang kurang tepat. Termasuk kebenaran. Sederhananya, ketika kita menyampaikan nasihat, perhatikanlah tiga hal ini:

  • Benar tidak isinya?
  • Bagaimana cara terbaik menyampaikannya?
  • Kapan waktu paling pas untuk mengatakannya?

Meski kek Jamil Azzaini pernah bilang bahwa momen yang pas itu dibuat bukan ditunggu, tetap saja ada saat-saat di mana semua orang akan lebih terbuka hatinya menerima nasihat. Kapan itu? Ketika hatinya senang. Itu kuncinya.

Jadi, usahakan ‘dakwah’ kita; ajakan agar orang tua shalat, disampaikan di waktu ketika mereka sedang senang. Atau yang lebih pas, ketika kita bisa membuat mereka bangga. Di sanalah ada kesempatan besar.

3. Diri Kita adalah Dalil

Kita sering terlupa bahwa ayat Allah swt. itu tidak hanya qauliy (mushaf), tapi juga kauni (alam ciptaan). Maka untuk menyadarkan orang tua kita, pakailah dalil kauni terlebih dahulu, yaitu diri kita sendiri.

Banggakan dulu mereka. Senangkan dulu hati mereka. In syaa Allah ketika hal itu terjadi, hati mereka akan lebih lembut dan terbuka menerima ajakan kita untuk shalat.

4. Mendoakan

Poin keempat ini juga sering kita lupakan. Sering kita terlalu fokus ke ‘merubah’ dan melupakan ‘memintakan untuk dirubah’. Kita sangka upaya-upaya kitalah yang bisa membuat orang tua kita mau shalat, padahal bukan sama sekali. Siapa yang punya kuasa memberi hidayah? Hanya Allah! Maka mintakan Allah agar Dia membalikkan hati orang tua kita sehingga mau shalat.

Kesimpulan

Nasihat sebenar apapun bila disampaikan dengan cara yang tidak baik, hanya akan memberikan hasil sebaliknya dari apa yang kita harapkan. Prinsip dakwah yang tertulis di dalam Al-Qur’an, sebagaimana ust. Salim A. Fillah pernah sampaikan: maklumi dahulu keadaan mereka, kemudian maafkan kesalahan-kesalahan mereka, jangan berkata pada mereka apa yang tidak mereka mengerti, jangan bebankan pada mereka apa yang tidak sanggup mereka pikul.

Alon-alon asal kelakon. Pelan-pelan saja. Jangan sampai keinginanmu mengajak orang tua ke Surga malah mengundang dosa karena tidak menghormati orang tua.


Agar lebih afdal, berikut ada pertanyaan serupa yang ditanyakan ke ust. Oemar Mita dalam salah satu kajiannya. Monggo disimak:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

It is main inner container footer text