Kumpulan Fiersa Besari Quotes untuk Caption Instagram yang Lebih Baik!

6. Melihat Sisi Baik

“Tunjukkan kegelapan dan aku bisa melihat cahaya. Tunjukkan semua keburukanmu dan aku masih bisa melihat kebaikan yang tersisa.”

Quote ini mengajari kita agar melihat sisi baik dari setiap keburukan yang terjadi. Sebab, seburuk-seburuknya perbuatan, akan menjadi manfaat; minimalnya bermanfaat sebagai contoh yang buruk.

7. Selalu Ada yang Baru

“Selalu ada hari baru untuk setiap napas. Selalu ada kesempatan baru untuk kembali tersenyum. Patah hati tidak harus selamanya, kan?”

Benar. Yang patah bisa tumbuh lagi, tergantung apakah kita sebagai pemilik hati, sanggup menabur keindahan di atas luka yang terlanjur perih itu?

8. Dikagumi dalam Diam

“Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.”

Ini yang saya maksud tadi. Beberapa hal memang diciptakan tidak untuk kita miliki, namun menjadi bahan untuk kita introspeksi dan bersyukur … serta berharap bahwa yang sedang dipersiapkan untuk kita adalah yang terbaik.

9. Hidup Bukan untuk Meratap

“Nyatakan perasaan, hentikan penyesalan, maafkan kesalahan, tertawakan kenangan, kejar impian. Hidup terlalu singkat untuk dipakai meratap.”

Selalu ada hal yang bisa kita lakukan dalam hidup. Jangan biarkan ratapan mengambil porsi yang terlalu besar. Buang. Ambil kesenangan dengan melakukan hal yang baik.

10. Bergerak atau Terbunuh

“Petualangan mungkin akan menyakitimu. Tapi, terjebak dalam rutinitas–yang tidak kau sukai- akan membunuhmu perlahan. Terkadang, kita hanya perlu menghilang.”

Damn quotes! Bertualanglah kalau kamu patah hati, teman. Coba saja, nanti rasa sakit itu akan hilang sendirinya. Jangan sibukkan diri dengan rutinitas yang bisa membuat rasa sakitmu terawat.

11. Apalah Arti Berjarak

“Apalah artinya jarak jika dibandingkan dengan jempol yang saling mengetik, suara yang saling menyapa, langit yang saling tertatap, dan doa yang saling terhatur?”

Beruntung. Kita hidup di mana jarak hanya seperlemparan batu dalam makna. Rindu, tinggal whatsapp. Ingin mengabari tapi gengsi, tinggal posting instagram berikut caption kodenya, dll. Namun, apalah alat yang lebih canggih untuk mendekatkan yang jauh selain doa?

12. Jangan Terlalu

“Jangan terlalu dalam, nanti susah keluar. Jangan terlalu terikat, nanti susah lepas. Jangan terlalu jatuh, nanti susah berdiri. Jangan terlalu bergantung, nanti susah mandiri. Saling menguatkan, bukan melemahkan.”

Yang berlebihan memang selalu tidak baik. Sebab yang sekarang kita cintai, bisa jadi membenci hanya karena satu hal kecil. Maka berlakulah sewajar-wajarnya. Seproporsional mungkin.

13. Pagi adalah Pembunuh Gerutu

“Ternyata, bangun lebih pagi adalah pembunuh gerutu. Karena kita punya waktu untuk secangkir kopi, setampuk lamunan, dan secarik rindu.”

Dampak dari sunyi: kejernihan pikiran. Apa yang menjadi polusi bagi kita seharian penuh, dikuras saat tidur, dan dibersihkan saat pagi-pagi sekali. Itulah alasan kenapa orang yang bangun malam dan merenungi segala peristiwa hidupnya, menjadi ahli hikmah.

14. Bersyukur itu Segalanya

“Saya rasa, manusia yang beruntung itu bukan yang punya segalanya, tapi yang bisa mensyukuri ke-apa-adaannya.”

Ketika kita bersyukur, seperti kata Fiersa Besari di quotesnya di atas, maka segala sesuatu akan menuju sifatnya yang sejati: tidak ada. Yang tersisa adalah cinta dan rasa bahagia.

15. Selalu Ada Sisi Baik

“Jika panas, keringkan lukamu. Jika hujan, nikmati rindu. Jika gelap, biarkan harapan menuntunmu. Mentari akan selalu terbit, juga senyumanmu.”

Buka mata hatimu dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi. Sebab, seperti yang saya tulis di atas tadi; akan selalu ada sisi baik dari peristiwa terburuk sekalipun, hanya saja, apakah kita mampu untuk melihatnya?

16. Berdoa Sebelum Berjuang

“Karena kita masih bernapas. Semoga tidak lupa untuk bersyukur sebelum mengeluh, memberi sebelum meminta, berdoa sebelum berjuang.”

Keseimbangan akan terus terjaga bila kita ingat lawan kata dari setiap hal buruk yang kita rasakan. Manusia tidak butuh bahagia yang sangat bahagia, tetapi bahagia yang mengingat, bahwa yang kita rasakan hari ini tidak berasal dari diri kita sendiri saja.

17. Hanya Beberapa Saja

“Beberapa pergi tak mengenal pulang. Beberapa salah tak mengenal maaf. Beberapa belum tak mengenal sudah. Beberapa lara tak mengenal rela.”

Beberapa hal memang tercipta hanya untuk memberi kita pelajaran, bukan rasa bahagia. Beberapa kemenangan juga tidak dimaksudkan untuk menyenangkan kita, melainkan memberitahu bahwa akan selalu ada yang kalah, dan bagaimana agar bersikap tidak sebagai orang yang kalah.

18. Patah Hati Bukan Hanya Soal Kekasih

“Kelak, akan kau rasakan, patah hati bukan melulu persoalan pacar, mantan, atau selingkuhan. Patah hati bisa dikarenakan tanggung jawab yang tak terselesaikan, juga kerluarga yang dikecewakan.”

Kalau definisi patah hatimu hanya menyoal kekasih, berarti mainmu kurang jauh. 😀

19. Perjuangkan Hari Esok

“Kita takkan hidup di planet ini untuk selamanya. Perjuangkan hari esok, berhenti menyesali hari kemarin, tetap tersenyum, bagikan kebaikan.”

Bung Fiersa, di Quotesnya ini, mengajak kita untuk memperbanyak jariyah. Wajar sih, blio kan ‘egois’, ingin diingat walau sudah mati. Bagikan kebaikan!

20. Hidup Ini Bukan Sinetron

“Hidup ini bukan sinetron di mana yang baik selalu teraniaya, dan yang jahat selalu berbicara sendiri sambil melotot-melotot. Manusia sulit ditebak. Alangkah disayangkan jika kebencianmu membabi buta dan kecintaanmu fanatik, seolah yang benar takkan pernah salah, pun sebaliknya.”

Berlaku sewajarnya saja, ya, teman-teman. Hari ini lawan, besok belum tentu. Hari ini jahat, besok sangat bisa jadi berubah. Manusia itu dinamis.

21. Dalam Diam Rasa Hadir Diam-diam

“Debaran ini pertanda, bahwa di antara kita ada yang tidak biasa. Dalam diam, rasa hadir diam-diam.”

Cinta selalu menjadi misteri yang besar. Entah kapan terjadinya, entah bagaimana awal mulanya, entah apa sebabnya. Dalam sekali waktu, kita pasti pernah merasakan jatuh cinta tiba-tiba. Bahkan tanpa saling tegur sapa dan pertemuan. Hanya diam. Tapi rasa tumbuh diam-diam.

22. Aku adalah Ganjil yang Kau Genapkan

“Aku adalah ganjil yang kau genapkan. Kau adalah teka-teki yang kulengkapi. Kita adalah dua masa lalu berbeda, dengan satu masa depan yang sama.”

Bersama adalah saling melengkapi satu sama lain. Satu kelemahan bertemu dua kekuatan yang saling menambal. Seperti jemari yang saling mengisi, dia adalah sebuah pertanyaan; dan kita adalah sebuah jawaban. Demi menggapai satu impian abadi, menua bersama-sama.

23. Kita ini Apa?

“Bagi satu sama lain, kita tahu kita ini siapa. Kita hanya tidak tahu kita ini apa.”

Ada yang paham dengan quotes fiersa besari yang satu ini? Menurut tibuku, kutipan di atas adalah sindiran tentang mabuk identitas. Kita gampang sekali mendefinisikan seseorang itu siapa dari kubu mana, tapi lupa bahwa kita sama-sama manusia.

24. Terkenang meski tidak Mengenang

“Terasa meski tidak ingin merasa. Terpikirkan tanpa berniat memikirkan. Terkenang meski tidak mengenang. Terjadi tanpa pernah menjadi.”

Cinta yang tidak pernah dimengerti biarlah saja. Daripada membuat hidup kita tidak bergerak, terjebak kenyataan pahit, yang menghisap kesadaran kita sedikit demi sedikit. Cinta memang usil, kita tidak pernah menghendaki, namun begitu saja terjadi.

25. Menghargai Perbedaan Sudut Pandang

“Yang sepele bagimu, bisa berarti segalanya bagi orang lain. Ada baiknya mulai menghargai perbedaan sudut pandang.”

Mulailah untuk melihat dunia lebih luas daripada yang dipandang matamu. Gunakan hati, lalu berempati. Rasakan bagaimana berjalan dengan sepatu orang lain, agar tidak menilai buruk perjalanan yang telah orang lain tempuh. Berbeda adalah pasti, dan memahami adalah mutiara hati.

26. Dunia Sedang tidak Baik-bak Saja

“Beberapa penyair sibuk bersembunyi di balik senja, hujan, gemintang, ufuk, gunung, pantai, jingga, lembayung, kopi, renjana, juga berbagai kata romantis lainnya, untuk kemudian lupa pada fakta bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya kata-kata hanyalah hiasan semata.”

di quotes Fiersa Besari satu ini, tersirat satu makna yang seharusnya bisa menyadarkan kita semua bahwa dunia tidak akan menjadi baik-baik saja bila kata-kata dan aksara hanya menjadi kata-kata dan aksara. Memang luka penyair adalah kebahagiaan bagi sajak-sajaknya, tetapi dunia yang terluka tidaklah patut hanya mendapatkan kata-kata saja, tetapi upaya perbaikan dari setiap kita semua. Bukan begitu, kawan-kawan yang mengagumkan?

27. Buntu Sebelum Selesai

“Ponsel kita canggih. Kita pakai untuk bermain twitter, tapi malas googling. Buka instastory, tapi malas cek info di feed Instagram. Tanya cara edit, tapi malas menonton tutorial di youtube. Instal begiga games, tapi malas instal KBBI untuk mengenal bahasa sendiri. Kita memang semalas itu.”

Betul. Budaya mencari tahu kita masihlah sangat rendah. Maka, tidak heran kalau banyak sekali dari kita yang masih mengklik tombol like untuk masuk surga, atau membagikan sesuatu karena sesuai dengan isi hati kita, bukan karena fakta. Hoax bertebaran di mana-mana karena apa? Malasnya kita mencari tahu, sesuatu yang gampang sekali dicari tahu.

28. Jumlah Followers tidak Menentukan Kebenaran

“Ketika saya kesal dengan perilaku warganet, saya kerap lupa bahwa saya pun warganet. Bisa saja, orang lain kesal dengan perilaku saya. Yang patut diingat adalah, jumlah followers yang banyak tidak menjadikan seseorang mahatahu. Dan anonimitas tidak menjadikan seseorang mahabenar.”

Sentilan lainnya dari Fiersa Besari. Hari ini kita terlalu sering menilai kebenaran, dari seberapa banyak informasi tersebut dibagikan, tanpa mencari tahu sendiri kebenarannya terlebih dahulu. Kita terlalu percaya akun-akun dengan followers banyak, padahal hal tersebut tidak menjadikannya tahu segala apapun, dan tidak menjadikannya suci dari mengutip pendapat orang lain yang salah.

29. Yang Harus Kupentingkan

“Pentingkan introspeksi, bukan interpretasi; wawas diri, bukan harga diri; toleransi, bukan arogansi; amanah, bukan amarah; meminta maaf, bukan meminta perhatian.”

Selalu ada setipis perbedaan antara hal yang buruk dengan hal yang baik. Memilih introspeksi daripada interpretasi terhadap masalah, adalah lebih baik. Sama sepertihalnya dengan memilih wawas diri, yang berarti mengkoreksi diri sendiri; daripada memilih harga diri, yang rentan terpeleset jadi rasa sombong yang tinggi.

30. Dari Sudut Mana Kamu Memandang?

“Baik, buruk, rupawan, jelek, semua bagaimana persepsi dan dari sudut mana kau berdiri untuk memandang.”

Sebab setiap kepala mempunyai parameter-parameter masing-masing dalam menilai, maka segala sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu menurut orang lain; yang menurut kita jelek, belum tentu menurut orang lain. Semua hal menjadi relatif, tergantung dari sudut mana kita memandang. Dan hanya orang bijaklah yang sanggup melihat dari berbagai sisinya.

31. Persiapkan Diri

“Selalu persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Karena, rencana-rencana indah akan selalu kalah dengan apa yang Tuhan rasa yang terbaik.”

Sebab tidak semua yang kita sukai, baik menurut Tuhan. Dan yang tidak kita sukai, belum tentu buruk menurutNya.

32. Tidakkah Menakutkan?

“Tidakkah menakutkan untuk bosan pada keseharian, lalu menjadikan internet pelarian? Saat membuka situs pertemanan, orang-orang berlomba diperhatikan. Kau pun muak memperhatikan dan mencoba mencari perhatian. Oh, ternyata lupa pada kenyataan itu menyenangkan. Tidakkah menakutkan?”

Jangan pernah terjebak pada kehidupan yang lebih fana dari fana. Dunia ini saja sudah tempat persinggahan saja, apalagi dunia maya. Sungguh menakutkan bila kita terjebak di dunia palsu, dan lupa mempersiapkan untuk menerima kenyataan.

33. Duka Perlu Dipelihara

“Duka perlu dipelihara, namun cukup seadanya. Agar kita tidak berhenti berkarya. Agar kita tidak lupa menjadi manusia.”

Tidak setiap duka ditakdirkan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap selamanya. Apabila kamu sanggup memeluknya dengan sebuah penerimaan, maka nantikan hadiah terbaik datang pada hidupmu; sebuah mahakarya agung bernama kesetiaan.

34. Tapi …

“Menamai, tapi lupa memaknai. Memenangkan, tapi enggan menenangkan. Mendewakan, tapi lupa saling mendewasakan. Mencintai, tapi gemar mengintai.”

Kita seringkali lupa hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan. Stuck dan berjalan di tempat, tanpa berupaya menuju sesuatu yang lebih baik.

35. Mantanmu Minta Maaf? Kasih Saja!

“Kalau mantanmu yang hobi menghancur-hancurkan itu meminta maaf, kasih saja. Asa hatimu kau simpan baik-baik. Tak perlu kau kassih lagi. Nanti dihancurkannya lagi.”

Memaafkan adalah bukti bahwa hati kita besar, tetapi memberikan lagi hati pada orang yang pernah menghancurkannya, adalah bukti kalau kita bodoh.

36. Jatuh Hati tak Bisa Memilih

“Jatuh hati tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus.”

Kata-kata Bung di atas, mirip dengan ungkapan yang sering diucapkan oleh Mbah Tejo: mencintai adalah takdir, menikahi adalah nasib. Kita bisa memilih untuk menikahi siapa, tapi tidak bisa memilih untuk mencintai siapa.

37. Hidup itu Mudah

“Bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika tidak senang, ungkapkan. Jika cemburu, tekankan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap “Aku membutuhkanmu”

Pelajaran filsafat dari seorang Fiersa Besari. Ya, janganlah mempersulit diri, hingga dunia benar-benar menyulitkanmu. Ada banyak cara mudah untuk menyelesaikan masalah, namun seringkali ego benar-benar mengambil alih dan memperumit semuanya.

38. Rindu yang Sembunyi-sembunyi

“Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.”

Terlihat seperti mempersulit diri, dengan menyembunyikan rindu dan mengirimkannya lewat doa. Namun sejatinya ini adalah adab yang luhur. Jika lapar, tinggal makan; tapi makan punya adab. Jika rindu, tinggal bertemu; tapi rindu juga punya adab. Itulah kenapa kita disebut manusia, karena kita punya adab.

39. Mimpi Kita Bersama

“Aku tidak tahu dimana ujung perjalanan ini, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi, selama aku mampu, mimpi-mimpi kita adalah prioritas.”

Yang membuat hidup ini menarik adalah kita tidak pernah tahu apa yang menanti di depan kita. Meskipun apa yang kita lakukan hari ini bisa menentukan masa yang akan datang, namun tidak ada yang pernah tahu secara pasti apa yang benar-benar akan datang. Tetapi, seseorang yang mempunyai komitmen kuat, pastilah bisa memprioritaskan apa yang memang harus menjadi prioritas.

40. Jika Aku Hancur … Kau Juga

“Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur… kau juga.”

Ada kerelaan yang begitu tulus, pada setiap pengorbanan yang dilakukan laki-laki. Namun seringkali hal tersebut tidak berarti di mata perempuan. Selalulah ingat, bahwa laki-laki terbaik pun punya batas kesabarannya masing-masing. Bila terlalu ‘terinjak’, siap-siaplah mengalami ‘dunia terbalik’.

41. Mengobati Patah Hati

“Tangannya menjadi pengganti tanganku untuk menuntunmu. Pundaknya menjadi pengganti pundakku untukmu bersandar. Biarlah gemercik gerimis, carik senja, secangkir teh, dan bait lagu menjadi penggantimu.”

Kita semua pasti pernah berupaya untuk pura-pura bahagia, dengan mengalihkan perhatian dari sang mantan, ke hal-hal yang kita sukai seperti teh, kopi, atau bait lagu. Tapi sejurus kemudian, kita sadar kalau hal tersebut sia-sia. Jadi bagaimana?

42. Kebahagiaan tidak Membutuhkan Penilaian Orang Lain

“Pada waktunya, dunia hanya perlu tahu kalau kita hebat. Kebahagiaan tidak membutuhkan penilaian orang lain.”

Sering kita menemukan, teman-teman kita yang dulunya biasa-biasa saja, tetapi ketika reuni menjadi seseorang yang sangat berbeda. Entah itu penampilan luaran, atau terlihat dari rona wajahnya yang lebih cerah. Ternyata, kita semua mempunyai definisi bahagianya masing-masing. Tidak perlu memperhatikan penilaian orang lain.

43. Cara Membencimu dengan Baik dan Benar

“Aku tidak tahu cara membencimu dengan baik dan benar, seperti kau tidak tahu cara menyayangiku dengan baik dan benar.”

Impas atau tidak? Jelas tidak. Laki-laki itu memang bodoh. Bila terlalu cinta, biasanya akan kehabisan cara untuk membenci. Seringnya dia merajuk ingin diperhatikan balik. Namun, ternyata malah disalah artikan. Dan akhirnya meminta maaf. Sungguh cara membenci yang tidak baik dan tidak benar.

44. Hidup di Atas Keputusan yang Kubuat Sendiri

“Jika mereka bertanya padaku apakah aku menyesal, jawabanku adalah tidak. Berhasil ataupun gagal, aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.”

Setiap orang punya jalan kemenangannya masing-masing. Berhasil atau gagal, tidak ditentukan dari bagaimana orang lain berhasil. Sebab, kitalah yang merasakannya sendiri. Berhasil adalah hati yang tenang.

45. Cinta itu Merelakan

“Cinta bukan melepas tapi merelakan. Bukan memaksa tapi memperjuangkan. Bukan menyerah tapi mengikhlaskan. Bukan merantai tapi memberi sayap.”

Ada banyak kata-kata yang kurang pas, ketika disematkan pada suatu hubungan. Seperti kata-kata ‘melepasmu’, yang memiliki sentimen keterpaksaan membuat pasangan pergi. Atau kata ‘menyerah’, yang memiliki sentimen ketidak kuatan kita menahan beban batin yang berat. Cobalah pakai kata-kata yang lebih positif seperti merelakan atau mengikhlaskan; hidupmu akan lebih ringan.

Quotes Fiersa Besari Mana yang Kalian Suka?

Nah, di antara quotes Fiersa Besari yang sudah kami tuliskan di atas, yang manakah yang teman-teman suka? Oh, ya, kalau page ini rame, nanti kami tambah deh quotesnya + gambar kotak buat diposting di instagram. Lumayan kutipan kata-katanya jadi caption. He.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.